Jayapura – Upaya pencarian korban insiden serangan buaya di Sungai Tami, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura, membuahkan hasil. Pada hari kedua pencarian, tim gabungan yang terdiri dari Basarnas Provinsi Papua, Pos TNI AL (Posal) Skouw Sae, Polsek Muara Tami, Koramil 1701-22/Muara Tami, serta masyarakat Kampung Mosso berhasil menemukan korban, Rabu (11/2/2026).
Korban diketahui bernama David, warga negara asing (WNA) asal Papua Nugini (PNG), yang sebelumnya dilaporkan hilang usai diserang buaya pada Selasa (10/2/2026). Operasi pencarian hari kedua dimulai sejak pukul 06.30 WIT dan berakhir pada pukul 13.35 WIT.
Dalam pelaksanaan pencarian, Babinsa Koramil 1701-22/Muara Tami, Serka Ludin Sapsuha, turut terlibat aktif bersama unsur terkait guna mendukung kelancaran operasi pencarian dan evakuasi korban.
Pencarian dipimpin langsung oleh Kepala Basarnas Provinsi Papua, Anto, dengan melibatkan 11 personel Basarnas di bawah komando Elianus Piter Yoku. Turut hadir dan terlibat di lokasi antara lain Kapolsek Muara Tami AKP Zakarudin, Danposal Skouw Sae Letda Laut (P) Maturits Sanadi, tenaga medis Puskesmas Skouw dr. Setiawan, serta personel Satpolair Polresta Jayapura Kota.
Berdasarkan keterangan saksi Mika Amsor, warga Kampung Mosso, peristiwa bermula saat dirinya bersama dua rekannya, yakni David dan Fridel Amsor (keduanya WNA asal PNG), hendak menyeberangi Sungai Tami dengan tujuan mengambil perahu.
Mika Amsor berenang lebih dahulu, kemudian disusul oleh David dan Fridel. Saat berada di tengah sungai dan mulai kelelahan, Mika melihat tumpukan kayu dan berniat beristirahat. Namun tanpa disadari, seekor buaya telah mengikuti mereka dari arah belakang.
Ketika menyadari keberadaan buaya tersebut, Mika berupaya menghalau menggunakan dayung. Namun, buaya justru beralih menyerang David yang berada tidak jauh darinya. Buaya menggigit tubuh korban dari arah belakang, sempat menghempaskannya sebanyak tiga kali, sebelum akhirnya menyeret korban ke dalam air.
Melihat kejadian tersebut, Mika segera berenang kembali ke daratan untuk meminta pertolongan warga sekitar, sementara Fridel Amsor melarikan diri kembali ke wilayah Papua Nugini. Diketahui, David dan Fridel Amsor telah berada dan tinggal sementara di Kampung Mosso selama lebih dari tiga hari sebelum insiden terjadi.
Proses Pencarian dan Evakuasi
Pada hari kedua pencarian, tim Basarnas membagi personel ke dalam tiga regu. Regu pertama melakukan penyisiran menggunakan perahu karet di sepanjang aliran sungai. Regu kedua menyisir jalur darat di sisi kiri dan kanan sungai. Sementara regu ketiga melakukan pemantauan udara menggunakan drone.
Upaya terpadu tersebut membuahkan hasil dengan ditemukannya korban di aliran Sungai Tami. Selanjutnya, tim gabungan bersama masyarakat Kampung Mosso melaksanakan proses evakuasi. Jenazah korban dievakuasi menggunakan mobil pikap milik Basarnas Provinsi Papua dan dibawa ke Puskesmas Skouw.
Setibanya di Puskesmas Skouw, dr. Setiawan melakukan visum terhadap jenazah korban. Selanjutnya, korban direncanakan akan dirujuk ke RS Bhayangkara Jayapura untuk penanganan lebih lanjut.
Babinsa Koramil 1701-22/Muara Tami, Serka Ludin Sapsuha, menyampaikan bahwa keterlibatan Babinsa dalam operasi pencarian merupakan wujud tanggung jawab dan kepedulian TNI terhadap keselamatan masyarakat.
“Kami dari Koramil Muara Tami turut membantu dan bersinergi dengan Basarnas, Polri, TNI AL, tenaga medis, serta masyarakat setempat dalam proses pencarian dan evakuasi korban. Alhamdulillah, pada hari kedua pencarian korban berhasil ditemukan. Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh unsur yang terlibat atas kerja sama dan dedikasinya,” ujarnya.
Serka Ludin juga mengimbau masyarakat agar lebih berhati-hati saat beraktivitas di sekitar sungai. “Sungai Tami merupakan habitat buaya. Kami mengingatkan warga untuk meningkatkan kewaspadaan serta menghindari aktivitas menyeberang sungai tanpa pengamanan yang memadai, guna mencegah kejadian serupa terulang kembali,” pungkasnya.
Dengan ditemukannya korban, operasi pencarian secara resmi dinyatakan selesai. Pihak berwenang kembali mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, khususnya saat beraktivitas di sungai yang diketahui sebagai habitat satwa liar berbahaya. (Redaksi Papua)